Sevi Aji, Luthier Gitar Kadisoro yang Mengubah Hobi Menjadi Karya Bernilai Tinggi

17 Juni 2026
Administrator
Dibaca 7 Kali
Sevi Aji, Luthier Gitar Kadisoro yang Mengubah Hobi Menjadi Karya Bernilai Tinggi

Gilangharjo, Di kalangan gitaris Bantul dan Daerah Istimewa Yogyakarta, nama Sevi Aji bukanlah sosok yang asing. Melalui tangan kreatif dan ketekunannya selama lebih dari dua dekade, warga Padukuhan Kadisoro, Kalurahan Gilangharjo ini telah dikenal sebagai salah satu luthier lokal yang menghasilkan berbagai gitar dan bass custom berkualitas, sekaligus menjadi rujukan bagi para musisi yang membutuhkan layanan perbaikan maupun pembuatan alat musik petik.

Perjalanan Sevi Aji sebagai pengrajin gitar tidak lahir dari pendidikan formal atau pengalaman bekerja di pabrik alat musik. Semua bermula dari kecintaannya terhadap dunia musik, khususnya gitar dan bass, yang telah tumbuh sejak masa mudanya.

Pada tahun 1994, ketika masih berusia sekitar dua puluh tahun, Sevi memiliki keinginan besar untuk mempunyai gitar sendiri. Namun keterbatasan ekonomi saat itu membuat keinginan tersebut sulit diwujudkan dengan cara membeli alat musik yang diidamkan.

Alih-alih menyerah, ia justru menemukan ide yang kelak mengubah jalan hidupnya.

"Saya waktu itu ingin sekali punya gitar, tetapi tidak mampu membeli. Akhirnya muncul pemikiran, kenapa tidak mencoba membuat sendiri?" kenangnya.

Keputusan sederhana tersebut menjadi awal perjalanan panjang yang terus berkembang hingga sekarang.

Berbekal latar belakang pendidikan seni rupa, Sevi mulai mempelajari bentuk, proporsi, dan karakter berbagai jenis gitar secara mandiri. Ia mengamati detail instrumen musik yang ada di pasaran, mempelajari bentuk bodi dan leher gitar, serta mencoba memahami bagaimana sebuah alat musik dapat menghasilkan suara yang baik.

Keterampilan yang dimilikinya sepenuhnya diperoleh secara otodidak. Ia tidak pernah mengikuti kursus, pelatihan, magang, ataupun bekerja di pabrik gitar. Semua kemampuan yang dimiliki saat ini diperoleh melalui proses belajar mandiri yang panjang dan penuh eksperimen.

Pada tahun 2000, saat berusia 26 tahun, Sevi mulai menekuni pembuatan gitar secara lebih serius. Namun perjalanan tersebut tidak selalu mudah. Tantangan terbesar pada masa awal adalah keterbatasan peralatan kerja yang masih sangat sederhana dan serba manual.

Akibatnya, hasil produksi awal sering kali belum sesuai harapan. Namun kondisi tersebut tidak membuatnya berhenti belajar.

Untuk menambah pengetahuan, Sevi beberapa kali berkunjung ke sentra pengrajin gitar di Baki, Sukoharjo, Jawa Tengah. Di sana ia mengamati proses produksi yang dilakukan para pengrajin berpengalaman. Selain itu, ia juga rutin mendatangi toko-toko alat musik untuk mempelajari detail konstruksi berbagai merek gitar ternama.

Tidak hanya itu, berbagai majalah musik dan referensi pergitaran juga menjadi sumber pembelajaran yang sangat berharga baginya.

Setiap pengetahuan yang diperoleh kemudian dipraktikkan kembali di rumah dengan metode trial and error. Dari waktu ke waktu kualitas hasil karyanya semakin berkembang hingga mampu menghasilkan instrumen yang tidak hanya nyaman dimainkan, tetapi juga memiliki karakter visual yang menarik.

Sebagai seorang pecinta musik, inspirasi terbesar Sevi datang dari para musisi dunia yang menggunakan berbagai merek gitar legendaris. Dari sana ia belajar bahwa sebuah alat musik bukan hanya benda fungsional, tetapi juga bagian dari identitas dan ekspresi seorang musisi.

Kini, setelah lebih dari dua puluh tahun berkarya, Sevi dikenal luas sebagai pengrajin gitar dan bass custom yang melayani berbagai kebutuhan musisi, baik pembuatan instrumen baru maupun jasa servis dan restorasi alat musik.

Keberadaannya memberikan manfaat nyata bagi komunitas musik lokal. Para musisi tidak perlu selalu mencari layanan ke luar daerah karena kebutuhan perawatan maupun pembuatan instrumen dapat ditangani langsung oleh pengrajin lokal yang berpengalaman.

Meski sebagian besar pekerjaan sering dikerjakan sendiri untuk menjaga kualitas, dalam beberapa kesempatan Sevi juga melibatkan orang lain dalam proses produksi. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya berbagi pengalaman dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Kepercayaan pelanggan menjadi salah satu pencapaian yang paling ia syukuri. Menurutnya, sebagian besar pelanggan yang datang memberikan tanggapan positif terhadap hasil pekerjaannya. Banyak di antaranya yang kembali menggunakan jasanya atau merekomendasikan kepada sesama musisi.

Bagi Sevi, kepuasan pelanggan merupakan modal utama untuk menjaga keberlangsungan usaha yang dibangun dengan penuh kesabaran selama bertahun-tahun.

Ke depan, ia berharap dapat terus berkarya secara lebih profesional sekaligus membuka peluang kerja bagi orang lain. Salah satu gagasan yang tengah dipersiapkan adalah penyelenggaraan pelatihan atau kursus singkat pembuatan gitar kecil maupun ukulele.

Melalui konsep pelatihan berbayar tersebut, peserta tidak hanya memperoleh ilmu dasar pembuatan alat musik, tetapi juga dapat membawa pulang hasil karya yang dibuat sendiri selama pelatihan.

Menurutnya, dunia pergitaran memang merupakan bidang yang cukup spesifik dan diminati oleh kalangan tertentu. Namun justru karena sifatnya yang khusus, bidang ini memiliki peluang untuk terus berkembang apabila dikelola dengan baik.

Untuk mendukung perkembangan pelaku usaha kreatif seperti dirinya, Sevi berharap adanya dukungan berupa bantuan peralatan dan bahan produksi. Ia juga menilai pemerintah kalurahan dapat berperan sebagai penghubung dengan berbagai program pemberdayaan UMKM yang diselenggarakan oleh instansi terkait.

Menurutnya, alokasi dukungan melalui Dana Desa, Dana Keistimewaan, maupun program dari Dinas Koperasi dan UKM dapat menjadi salah satu langkah strategis untuk memperkuat pelaku ekonomi kreatif berbasis keterampilan.

Kepada generasi muda, Sevi berpesan agar tidak memandang keterampilan hanya sebagai hobi semata.

"Jadikan keterampilan bukan sekadar hobi, melainkan alat untuk menyuarakan isi hati, merawat identitas budaya lokal, dan menciptakan inovasi. Jangan takut tampil berbeda, karena karya terbesar lahir dari keunikan perspektif Anda," pesannya.

Prinsip hidup yang selalu dipegangnya pun sederhana namun kuat: “Berkreativitas tanpa batas.”

Melalui perjalanan panjang yang berawal dari keinginan sederhana untuk memiliki gitar sendiri, Sevi Aji membuktikan bahwa ketekunan, rasa ingin tahu, dan keberanian untuk belajar secara mandiri dapat melahirkan karya-karya bernilai tinggi. Dari sebuah bengkel kerja sederhana di Padukuhan Kadisoro, lahirlah berbagai instrumen musik yang telah menemani perjalanan para musisi di Bantul dan Yogyakarta, sekaligus menjadi bukti bahwa potensi lokal mampu menghasilkan karya yang tidak kalah dengan produk dari pusat-pusat industri alat musik yang lebih besar.